Tentang Perempuan yang Pernah Ku Cintai


***

Setelah sekian lama kami beralih ke jalan kami masing-masing, ia kembali dengan goresan-goresan dan wajah yang begitu rapuh. Jiwanya begitu hancur, matanya begitu memudar, dan tubuhnya tenggelam dalam lautan tangis yang ia buat sendiri. Ia bercerita tentang betapa bencinya ia kepada dirinya sendiri, tentang keadaan ini adalah karmanya, dan tentang ia tak pantas untuk bernafas.
Sedikit yang ia tahu bahwa hati ini sempat tergoyah dan menangis melihat perempuan yang dahulu pernah ku cintai menjadi monster yang memakan dirinya sendiri. Pilu rasanya melihat senyuman yang dahulu begitu asiknya terpampang, sekarang hanya memperlihatkan air mata.
Dengan lembut ku menepuk kepalanya sembari bercerita tentang bagaimana dunia ini bekerja, tentang kehebatan yang selama ini ia lakukan, dan tentang ketidak sempurnaan adalah bagian dari hidup. Ia kian membenamkan wajahnya, menenangkan isaknya sembari mempertanyakan perasaanku dahulu kala. Dengan lembutnya, aku mengatakan bahwa aku sudah sembuh. Lalu ku berucap tentang satu kesalahan yang selama ini dia lakukan, ialah melupakan dirinya dan bahagianya. Isaknya semakin memudar dan wajahnya semakin nampak. Dengan wajah yang begitu merah dan mata yang masih menyisakan air mata, ia mendongak dan mengatakan terima kasih. Kemudian ia beranjak pergi. Aku tersenyum melihatnya melangkah dengan tertatih-tatih dan meyakinkan diri bahwa ia akan baik-baik saja,

ia pasti bisa melaluinya.

No comments:

Post a Comment